REVIEW MANDIRI PENILAIAN OBLIGASI DAN SAHAM
Kiki Rizqi Ananda Administrasi Bisnis
PENILAIAN OBLIGASI DAN SAHAM
INSTITUT MANAJEMEN WIYATA INDONESIA
Definisi Nilai
Ada keberagaman pengertian nilai sesuai dengan konteks yang dikehendaki. Beberapa istilah nilai berikut berkaitan dengan penilaian perusahaan dan penilaian surat berharga.
Nilai Likuidasi (liquidation value)
Nilai likuidasi adalah sejmnlah rupiah yang dapat direalisasikan jika suatu aset atau sejumlah aset dijual secara terpisah dari organisasi yang menjalankannya. Contoh: suatu perusahaan dihentikan operasionalnya kemudian aset-asetnya dijual, maka nilai penjualan aset itulah yang disebut nilai likuidasi.
Nilai Kelangsungan Usaha (going-concern value)
Nilai kelangsungan usaha adalah nilai perusahaan jika dijual sebagai usaha yang berkelanjutan. Nilai kelangsungan usaha inilah yang menjadi asumsi dasar dalam penilaian surat berharga.
Nilai Buku (book value)
Nilai buku suatu aset adalah nilai aset yang dilaporkan dalam laporan posisi keuangan suatu perusahaan yang menggambarkan biaya historis aset tersebut. Contoh: nilai buku suatu aset tetap adalah harga perolehan aset tersebut setelah dikurangi penyusutannya.
Nilai Pasar (market value)
Nilai pasar atau sering disebut sebagai harga pasar adalah nilai yang terbentuk dari interaksi antara penawaran dengan permintaan. Contoh: harga pasar saham BBCA pada tanggal 4 Mei 2018 sebesar Rp22.300 per lembar.
Nilai Nominal (face value)
Nilai nominal surat berharga adalah nilai yang tertera pada lembaran surat berharga, apakah itu saham atau obligasi. Contoh: nilai nominal saham BBCA sebesar Rp500 per lembar, nilai Rp500 ini tertera dalam lembaran saham BBCA.
Nilai Intrinsik (intrinsic value)
Nilai intrinsik sering juga disebut sebagai nilai wajar (fair value). Nilai intrinsik suatu aset atau surat berharga merupakan jumlah nilai sekarang dari aliran kas masa depan yang diharapkan atas aset/surat berharga tersebut.
Penilaian: Faktor Penentu dan Proses Dasar
Hipotesis pasar modal yang efisien menyatakim bahwa jika pasar beleerja secant efisien maka harga pasar surat berharga telah mencerminkan seluruh ioformasi publik yang tersedia, sehingga tidak ada perbedaan antara nilai pasar dengan nilai intrinsik. Dengan membandinglean antara nilai pasar terhadap nilai intrinsiknya, investor dapat menilai apakah suatu surat berharga berada pada harga pasar yang kemahalan (overpriced) atau kemurahan (underpriced). Penilaian ini menjadi dasar keputusan investor untuk membeli atau menjual surat.
Faktor Penentu Nilai
Nilai aset/surat berharga akan ditentukan oleh tiga faktor yaitu:
Besar dan jimgka waktu terjadinya aliran kas yang alean terjadi,
Semakin besar dan semakin cepat aliran kas yang akan diterima oleh investor menyebabkan semakin tinggi nilai aset tersebut.
Risiko dari aliran kas tersebut,
Nilai aset ditentulean oleh aliran kas yang akan terjadi dimasa mendatang. Seperti kita ketahui bahwa masa yang akan datang akan selalu membawa ketidakpastian. Ketidakpastian bisa terjadi atas besarnya aliran kas maupun jangka waktunya, sehingga semakin tinggi ketidakpastian menunjukkan besamya risiko yang dihadapi oleh investor.
Tingkat pengembalian yang diinginkan oleh investor (required rate of return)
Tingkat pengembalhm investasi yang diinginkan oleh investor menjadi factor diskonto untuk menentukan nilai suatu aset, oleh karena itu semakin besar tingkat pengembalian investasi yang diinginkan oleh investor akan semakin rendah nilai suatu aset.
Proses Dasar Penilaian
nilai intrinsik suatu aset/surat berharga adalah jumlah nilai sekarang dari aliran kas masa depan yang diharapkan aset/surat berharga tersebut, (required rate of return). Secara matematis model penilaian aset dapat dirumuskan sebagai berikut:
V = [C1/(1+r)1] + [C2/(1+r)2] + [C3/(1+r)3] + …… + [Cn/(1+r)n]
V = t]
V = Nilai asset
Ct = Aliran kas pada periode t
r = Tingkat pengembalian investasi yang diinginkan oleh investor
t = Periode terjadinya aliran kas
Berdasarkan rumus penilaian aset tersebut maka dapat dinyatakan bahwa ada tiga Jangkah dalam proses dasar penilaian aset yaitu:
Langkah 1: memperkirakim nilai Ct yaitu besarnya aliran kas dan waktu kapan aliran ka tersebut terjadi.
Langkah 2: menentukan nilai r yaitu tingkat pengembalian investasi yang diinginkan oleh investor.
Langkah 3: menghitung nilai V yaitu nilai aset, sebagai nilai sekarang dari aliran kas yang akan terjadi dimasa mendatang menggunakan r sebagai tingkat diskonto.
C. Penilaian Obligasi
Obligasi merupakan salah satu jenis instrumen surat berharga yang memberikan pendapatan tetap (fixed income securities) yang diperdagangkan di pasar modal.
Obligasi menjadi salah satu instumen investasi yang sangat fleksibel dan prospektif perkembangannya dimasa mendatang.
pada umumnya aliran kas yang akan diterima oleh investor dari obligasi berupa penghasilan bunga yang diterima secara periodik dan pelunasan pokok utang pada saat jatuh tempo.
pendapatan bunga yang diterima obligor sebersar tingkat kupon (coupon rate) dikalikan nilai nominal obligasi. pendapatan bunga ini akan diterima secara periodik, bisa setiap tahun sekali maupun setiap setengah tahun sekali, sedangkan aliran kas yang berupa nilai pelunasan akan diterima pada saat jatuh tempo obligasi sebesar nilai nominalnya.
berdasarkan rumus penilaian aset, maka nilai (harga) obligasi dapat ditentuken dengan mendiskontokan aliran kas yang berasal dari pendapatan bunga dan aliran kas pelunasan dengan tingkat keuntungan yang dikehendaki oleh investor atas obligasi tersebut (required yield).
secara matematis rumus untuk menghitung nilai obligasi adalah sebagai berikut:
Vb = [C1/(1+r)1] + [C2/(1+r)2] + [C3/(1+r)3] +.....+ [Cn/(1+r)n] + [MVn/(1+r)n]
atau
Vb = t ] + [MVn / (1 + r)n ]
dimana :
Vb = nilai obligasi
Ct = kupon obligasi yang dibayarkan secara periodik
MVn = nominal obligasi (pelunasan obligasi)
r = tingkay kengembalian investasi yang diinginkan obligor
t = tahun
n = periode jatuh tempo obligasi
CONTOH :
obligasi negara seri FR0028 nominal Rp.1.000.000/lembar memberikan tingkat bunga sebesar 10% pertahun yang akan dibayarkan setiap akhir tahun. jatuh tempo obligasi adalah 10 tahun. berapakah nilai obligasi ini apabila investor menginginkan tingkat keuntungan yang dikehendaki sebesar 12% per tahun?
nilai obligasi tersebut dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
Vb = t ] + [MVn / (1 + r)n ]
1) aliran kas berupa kupin yang akan diterima obligor, Ct= Rp.100.000
(10% x 1.000.000) akan diterima setiap akhir tahun selama 10 tahun yang akan datang
2) aliran kas pelunasan obligasi MVn = Rp. 1.000.000 akan diterima pada akhir tahun ke 10
3) tingkat keuntungan yang dikehendaki obligor, r = 12% per tahun
Vb = t ] + [Rp.1.000.000/(1+12%)10]
= [Rp.100.000 X 5.650] + [Rp.1.000.000 X 0,322)
= Rp. 565.000. + Rp. 322.000
= Rp. 887.000
hasil perhitungan diperoleh hasil nilai obligasi tersebut sebesar Rp. 887.000. nilai obligasi lebih rendah dibandingkan nilai nominal dengan selisih Rp.1.000.000 - Rp.887.000 = Rp. 113.000. selisih ini apabila ditelusuri merupakan nilai sekarang dari Rp.20.000 (selisih kupon yang dibayarkan dengan kulon yang diharapkan (Rp.120.000 - Rp.100.000) selama 10 tahun dengan tingkat diskonto 12% yaitu (Rp.20.000 X 5.650) = Rp.113.000
perhituhgan diatas, pembayaran obligasu dilakukan sekali setahun setiap akhir tahun.
tidak menutup kemungkinan perusahaan secara khusus melakukan pembayaran kupon obligasi setiap setengah tahun, apabila hal ini terjadi maka perhitungan nilai obligasi harus dilakukan penyesuaian sebagai berikut:
1. besarnya aliran kas dari kupon dihitung jumlah untuk setengah tahun
2. tingkat diskonto dihitung setengah tahun
3. periode menggunakan setengah tahunan.
ada kalanya pemerintah atau perusahaan menerbitkan obligasi tanpa memberikan pembayaran bunga kepada pemegang obligasi. obligasi ini disebut sebagai obligasi tanpa kupon (zero coupon bond) yang diterbitkan dengan tijuan untuk restrukturisasi atau untuk mengatasi masalah keuangan. nilai obligasi tanpa kupon hanya berupa nilai sekarang dari pelinasan yang akan diterima oleh obligor.
secara sistematis rumus unttuk menghitung nilai obligasi tanpa kupon adalah sebagai berikut :
Vb = [MVn/(1+r)n]
nilai obligasi berhubungan terbalik dengan perubahan tingkat keuntungan yang diinginkan oleh investor (tingkat bunga umum). ketika tingkat bunga umum naik maka nilai obligasi akan menurun, sebaliknya ketika tingkat bunga umum menurun maka nilai obligasi akan semakin meningkat.
D. Penilaian Saham Preferen
Saham preferen sering disebut sebagai surat berharga hybrid karena mempunyai banyak karakteristik yang merupakan campuran dari karakteristik saham maupun karakteristik obligasi. Pemegang sahmn preferen tidak mempunyai hak suara didalam RUPS, tetapi mempunyai hak untuk didahulukim dalam hal pembagian dividen maupun klaim terhadap aset perusahaan. Secara umum karakteristik sahmn preferen antara lain:
Seperti halnya sahain biasa, sahmn preferen membayarkan dividen dan tidak mempunyai jatuh tempo, akan tetapi sahmn preferen juga bersifat seperti obligasi yaitu dividen yang dibayarkan dalmn jumlah yang tetap.
Sering juga penetapan besarnya dividen sahmn preferen merupakan persentase tertentu dari nilai nominal.
Berdasarkan karakteristik seperti ini maka aliran kas yang akan diterima oleh investor sahmn preferen adalah dividen dalam jumlah yang tetap setiap tahun dan dibayarkan selmanya, oleh karena itu rumus nilai saham preferen dapat ditetapkan sebagai berikut,
Vp = Dp/r
Dimana:
V p =nilai saham preferen
Dp =dividen saham preferen
R = Tingkat pengembalian investa~i yang dikehendaki oleh inve~1or (required rate of retuni)
E. Penilruan Saham Biasa (Valuation of Commond Stock)
Saham biasa mewakil kepemilikan dalam perusahaan. Jika pemegang Obligasi berkedudukan sebagai kreditur, maka pemegang saham biasa berkedudukan sebagai pemilik perusahaan. Karakteristik/sifat yang melekat pada saham adalah :
Berhak atas pendapatan perusahaan berupa dividen, yang dapat diterima dalam bentuk dividen tunai maupun dividen saham.
Berhak atas aset perusahaan apahila perusahaannya dilikuidasi
Berhak mengeluarkan suara untuk mengambil keputusan dalm RUPS mengenai segala hal yang berkaitan dengan manajemen perusahaan, pembagian dividen serta pembagian kekayaan perusahaan.
Tanggung jawab terbatas.
Berhak atas HMEDT pada saat perusahaan melakukan penawaran terbatas (Right Issue).
Investor sahmn biasa memperoleh pendapatan yang berasal dari dua smnber yaitu dividen dan capital gain. Dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham biasa tergantung pada perolehan laba perusahmm dan keputusim RUPS. Capital gain adalah keuntungan yang diperoleh pemegang saham apabila harga jual melebihi harga belinya. Nilai saham biasa adalah nilai sekarang dari aliran kas tersebut yang didiskontokan dengan tingkat keuntungan yang diinginkan oleh investor (required rate of return). Secara 1natematis nilai saham biasa dapat dirumuskan sebagai berikut :
VS = t] + [Pn/(1 + r)n]
Dimana:
Vs = nilai saham biasa
Dt = dividen saham biasa pada periode t
Pn = harga saham pada periode n
R = tingkat pengembalian investasi yang dikehendaki oleh investor (required rate of return)
N = periode kepemilikan saham biasa (holding period)
Penghitungan nilai saham biasa PT. ABCD sebagai berikut:
VS = t] + [Pn/(1 + r)n]
VS = [80/(1+12%)1) + (100/(1+12%)2 ] + (120/(1+12%)3] + (2500/(1+12%)3]
VS = 71,44 + 79,7 + 85,44 + 1 780
VS = 2016,58
Hasil perhitungan menunjukkan nilai saham PT. ABCD adalah sebesar Rp2.016, 58. Apabila saham ABCD ini ditawarkah pada harga melampaui Rp2.016, 58 menunjukkan bahwa harga yang ditawarkan sudah kemahalan (overpriced), sebaliknya jika harga yang ditawarkan kurang dari Rp2.016,58 menunjukkan bahwa harga saham tersebut masih w1derpriced sehingga dapat memenuhi tingkat pengembalian investasi yang diinginkan oleh investor. Dibandingkan dividen tahun pertama (Rp80), dividen tahun kedua (Rp 100) menunjukkan adanya pertumbuhim sebesar 40%, dan dividen tahun ketiga (Rpl20) menunjukim adanya pertutnbuhan sebesar 20%. Apabila periode kepemilikan sabam adalah tak terbingga (n = ∞) maka nilai [P∞/(1 + r)∞) mendekati nilai nol sehingga nilai saham menjadi:
VS = t]
Ketika perusahasaan sudah mampu memperoleh keuntungan dengan tingkat pertumbuhan yang stabil, maka ada kemungkinan perusahaan menetapkim untuk membagi dividen dengan pertumbuhan yang konstan setiap tahun. Misalnya dividen yang dibagikan saat ini adalah Do dan tingkat pertumbuhan konstan setiap tahun adalah g, maka D1 = D0 (1 + g)1 , D2 = D0 (1 + g)2 dan seterusnya hingga Dt = D0 (1 + g)t . Nilai saham biasa menjadi sebagai berikut:
VS = t/(1 + r)t]
Secara umum tingkat pertumbuhan dividen biasanya lebih rendah dibimdingkan dengan tingkat keuntungan yang disyaratkan (g < r), maka rumus harga saham dengan pertumbuhan dividen konstan dan jangka waktu kepemilikan tak terhingga dapat disederhanakan menjadi:
VS = D1/(r - g)
Pt Giro Tok adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang usaha leasing. Pada akhir tahun Jalu membayar dividen Rp200 per lembar saham yang diharapkan akan meningkat sebesar 5% setiap tahun. Apabila tingkat keuntungan yang diharapkan pemodal sebesar 12 % per tahun, maka nilai saham PT Giro Tok sebesar Rp3.000 yang diperoleh dari perhitungan sebagai berikut:
D1 = 200 (1+5%)1
D1 = 210 7 → VS = 210/(12%- 5%)
VS = 3 000
Tidak selarnanya pertumbuhan di viden adalah konstim, pada periode-periode tertentu mungkin dividen akan tumbuh lebih besar atau lebih kecil dari periode sebelumnya. Misalnya selama m periode pertruna pertumbuhan dividen sebesar g1 dan sesudah itu tingkat pertumbuhim dividen berubah menjadi sebesar g2 bersifat konstan, maka harga saham menjadi:
Dilnana:
V, = nilai sahrun biasa
Do - = dividen saham biasa pada awal periode t
Om = dividen saham periode m
g1 = pertumbuhan dividen setiap tahun selama m periode
gz = Pertumbuhan dividen setelah periode m
r - = tingkat pengembalian investasi yang dikehendaki-Nya oleh inve~1or
t = tahun
V, = L~~1 [Do(l +g1)'/(l+r)'J + ( (Dm+1/(r - gz) }/( 1 + r)'"]
Apabila investor menghendaki tingkat pengembalian investasi sebesar 12% per tahun, maka nilai saham dapat dihitung sebagai berikut:
V, = L~1[Do(l+g1)'/(l+r)'J + [(Dm+il(r-g2)}/(l + r)'"]
V, = I i=1[200(1+5%)'/(1+12%)') + [(D4'(12%- 10"7o)}/(l + 12%)3]
Untuk mempermudah penghitungim maka terlebih dahulu dihitung besamya obligasi yang akin diterima setiap tahun sbb:
D 1 = 200 (1+5°7o)1 = 210
D2 = 200 (1+5%)2 = 220,5
D3 = 200(1+5%)3= 231, 525
D4 = 231,525 (1+10"7o)1 = 254,68
Selanjutnya nilai dividen dimasukan dalam rumus penghitungan nilai saham diatas.
V, = (210/(1+12%) 1) + (220,5/( 1+12%)2] + (231,525/( 1+12%)3] + ((254,68/(12% - 10%)) X (l/(1+12%))3)
V, = (210)(0,893) + (220,5)(0,797) + (231,525)(0,712) + (12 734)(0,712)
V, = 187,53 + 175,74 + 164,846 + 9 066,608
V, = 9 594, 724
F. Tingkat Pengembalian yang Diharapkan
Tingkat pengembalian yang diharapkim oleh investor adalah tingkat diskonto yang membuat nilai sekarag dari aliran kas yang akan diterima sama dengan harga pasar saat ini. Tingkat pengembalian yang diharapkan oleh pemegang obligasi merupakan tingkat pengembalian yang akan diperoleh investor jika memegang obligasi sampai dengan jatuh tempo yang disebut yield to maturity. Yield to maturity (YTM) dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
Yield to Maturity = [Ct + ((MV – Vb)/n)] / [(MV + Vb)/2]
Sebuah obligasi nominal Rp I 000 000 per lembar membayarkan kupon sebesar 1O% per tahun dan jatuh tempo obligasi I0 tahun. Obligasi tersebut ditawarkan pada harga pasar sebesar Rp980.000 per lembar. Apabila invesor memutuskan untuk membeli obligasi ini pada harga yang ditawarkan maka berapa sebenarnya tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor? Menggunakan rumus yield to maturity dapat dihitung tingkat pengembalian yang diharapkan oleh invesor dengan langkah sebagai berikut:
Ct = I0% X Rpl.000.000
Ct = Rp l00.000
MV = Rp l .000.000
Vb = Rp980.000
Yield to Afaturity = [100.000 + ((1.000.000- 980.000)/10)] / [(1.OOO.OOO + 980.000)/2]
= (100.000 + 2.000) / (990.000)
= 10,3%
Tingkat pengembalian yang diharapkan pada investai saham biasa bisa menentukan rumus nilai saham preferen jika saham tersebut membayarkan dividen tetap dengan holding period tak terhingga. r = D/VS. Sedangkan untuk saham yang membayarkan dividen tidak konstan dengan holding period tak terhingga akan sangat sulit untuk menghitung tingkat diskonto yang berlaku. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
VS = D1 / (r - g)
r = (D1 / VS) + g
Saham AALI pada saat ini ditawarkan pada harga pasar sebesar Rp 11 000. Pada akhir tahun lalu saham ini membayar dividen sebesar Rp200 per lembar dan diperkirakan dividen akan tumbuh sebesar 10% per tahun. Apabila investor memutuskan untuk membeli sahmn AALI ini 1naka tingkat pengembalian investasi yang diharapkan oleh investor adalah sebesar 12% yang didapatkan dari perhitungan sebagai berikut:
r = [200(1+10%)1 / 11. 000] + 10%
r = 2%+ 10%
r = 12%.
Komentar
Posting Komentar